Selasa, 19 Mei 2020

Impulsif

Miranda tak kuasa menahan amarah yang membuncah. Dengan Nexian QWERTY tipe NX-G522 miliknya, ia bergegas menelepon Jono.

“Kurang ajar kau, Jono! Kita putus! Menikahlah kau dengan si kerempeng itu!” hardiknya, bagai kilat yang menyambar sesaat setelah nada hubung panggilan menandakan panggilan telah tersambung. Bahkan sebelum Jono sempat mengucapkan ‘halo.’

Ponsel QWERTY itu melayang kemudian, beberapa sentimeter di atas laptop yang masih menyala—yang tadi digunakan Miranda untuk berburu kebohongan Jono—sebelum akhirnya terbanting di sudut kamar.

Sudah tak memberi Jono kesempatan bicara di awal, Miranda juga tak memberinya kesempatan bicara di akhir. Perempuan itu memang ratu tega, tak sabar, dan kejam di saat bersamaan.

Sementara di seberang sana—di kamar yang bau apek—tanpa kesempatan untuk menjelaskan, Jono kian tersudut. Ia meringkuk, sesegukan telah diputuskan oleh Miranda.

Putus asa, inisiatif ia menelan tujuh tablet entah obat apa. Tentu saja jumlah itu tidak dipilih secara acak; itu adalah tanggal lahir Miranda. Dikiranya, Miranda akan luluh. Malang, nyawanya justru melayang beberapa jam setelahny

Kamis, 26 Maret 2020

Catatan #1

Aku ingat sekali waktu itu.
Aku adalah bocah usia sembilan, bersama kawan-kawan bermain di kebun mentimun tepat di belakang rumah seorang Nenek. 
Diam-diam beliau hampiri kami lalu hadiahkan masing-masing satu mentimun. 
Katanya, "lain kali, kalau mau, minta saja, jangan mencuri."
Tak ada yang mencuri. Kami hanya berkeliling, bermain sembari mencari belalang. 
Tapi... itu peringatan baik, jadi tak perlu disangkal.

Kami jarang terlibat percakapan dengan durasi yang panjang, tetapi tetangga yang tak sekalipun mengeluhkan karakternya tampak cukup untuk menyatakan bahwa beliau adalah tetangga yang baik. Seingatku pun beliau tidak pernah semena-mena kepada para tetangganya. 

Hari ini, Beliau berpulang ke rumah Bapa di Sorga.


Hidup ini misteri. Kita dipertemukan. Kadang-kadang ditakdirkan menjadi tetangga, teman, atau apa saja. Kita tidak bisa pastikan siapa yang akan melihat siapa lebih dulu tiada.
Untuk ketidaktahuan itu, mari bersama-sama kita upayakan segala sikap baik kepada siapapun. Agar jika saat kita tiba, hanya hal baik yang masing-masing kita ingat.