Rabu, 07 Agustus 2024

Sesuatu Saat Mengulang-ulang Kata


Ini berawal saat saya membuka dan membaca judul blog saya sendiri, “Range of Reflections.” Saya kemudian berpikir untuk memiliki satu identitas yang menggambarkan saya. Tapi, apa?

Saat itu “wortel” tiba-tiba terlintas di kepala saya.

Perempuan wortel? Wortel? Sejujurnya, saya tidak menyukai wortel dalam berbagai bentuk olahan, kecuali mentah.

Kemudian, semakin diulangi, semakin terdengar asing. Wortel, wortel, wortel, wortel wortel wortel.

Loh, kok?

Pernah nggak kamu tiba-tiba merasa asing dan seperti kehilangan makna saat mengulang-ulang suatu kata?

Tampak sepele, ya, namun memiliki implikasi mendalam.

Ternyata, dalam psikologi kognitif dan linguistik, fenomena ini dikenal sebagai “semantic satiation.” Ini terjadi karena otak kita mulai mengabaikan sinyal-sinyal yang dihasilkan oleh kata tersebut akibat paparan yang berulang-ulang.

Sebagai contoh, jika kita mengambil kata “wortel” dan mengulanginya berkali-kali—"wortel wortel wortel"—kita akan merasakan perubahan persepsi terhadap kata tersebut. Awalnya, kata “wortel” jelas merujuk pada sayuran berwarna oranye yang sering digunakan dalam berbagai masakan. Namun, setelah beberapa kali pengulangan, otak kita mulai melihatnya sebagai sekumpulan bunyi asing yang tidak memiliki makna yang signifikan.

Fenomena ini menunjukkan betapa fleksibelnya otak kita dalam memproses bahasa. Makna dari kata-kata ternyata bisa berubah-ubah, tergantung pada seberapa sering dan dalam konteks apa mereka digunakan. Semantic satiation ini tampaknya memberikan gambaran bagaimana kita memproses dan memahami bahasa sehari-hari, serta bagaimana otak kita bisa “bosan” dengan sesuatu yang diulang-ulang.

Sabtu, 06 Juli 2024

Gala Bunga Matahari (Trend)

Beberapa hari terakhir aku sering melihat postingan dengan lagu serupa, dimana orang-orang membagikan kisah-kisah kehilangan dan upaya merawat kenangan terakhirnya. Keseragaman aktivitas ini ramai sejak Juni 2024.

Sekarang pukul 02.32 dini hari dan aku tidak tidur dengan benar belakangan. Karena penasaran, kuhabiskan dini hari untuk menelusurinya sampai aku tak kuat lagi untuk membaca lebih banyak. Aku merasa kosong seketika.

Kusimpan disini, ya. Semoga keramaian yang muncul, kerinduan, dan kenangan yang disuarakan lewat lagu ini bisa menjadi pengingat untukku/kita betapa berharganya kebersamaan dengan orang-orang tersayang.

Semoga rindu-rindu yang tak lagi bisa menuai temu selain dibalur di sela jemari bisa menyentuh jiwa-jiwa yang dirindukan, dimana pun berada.

Kita tak pernah tahu berapa lama waktu yang kita miliki. Selagi masih ada waktu, saling mengasihi dan mencintailah dengan sebaik-baiknya.

Sal, thank you for the song.





Sabtu, 27 April 2024

Belasungkawa

26 April 2024.
Untuk perempuan dengan nama belakang yang sama denganku.

Kita baru saja bertemu. Juga baru beberapa malam lalu kupintal harapan untuk bahagiamu. Begitupun, aku tak akan terburu-buru menilai baik buruk sesuatu. Sebab yang buruk menurut kita belum tentu buruk menurut-Nya, pun sebaliknya.

Semua baik-baik saja sebelumnya dan tanpa aba-aba yang bisa kamu pahami dengan gamblang, duniamu yang tampak tenang mendadak kacau balau, lalu runtuh. Aku tak punya kata atau cara apa pun. Bahkan jika kupunya, aku tak akan mampu menghiburmu.

Saat usia mencapai batasnya, bukan hanya keberadaan fisik mereka yang meninggalkan yang berakhir, ada bagian dari diri kita yang ditinggalkan juga ikut berakhir. Karenanya, kesedihan yang memanjang dan ikhlas yang lambat mencapai dermaganya dapat dimaklumi. Usah terburu-buru berkenan dengan seluruh nasihat lewat belasungkawa. Pelan-pelan saja hingga kau mampu imani ini sebagai takdir-Nya. Meski tak pernah benar-benar kupahami rasa sakit itu sama persis sepertimu, doa terbaikku bagimu, bagi perasaanmu, selalu.

Rabu, 31 Januari 2024

 

Mereka bilang, lebih baik dicintai daripada mencintai. Apakah karena kita ingin dicintai, kita takkan belajar mencintai?

Selasa, 19 Mei 2020

Impulsif

Miranda tak kuasa menahan amarah yang membuncah. Dengan Nexian QWERTY tipe NX-G522 miliknya, ia bergegas menelepon Jono.

“Kurang ajar kau, Jono! Kita putus! Menikahlah kau dengan si kerempeng itu!” hardiknya, bagai kilat yang menyambar sesaat setelah nada hubung panggilan menandakan panggilan telah tersambung. Bahkan sebelum Jono sempat mengucapkan ‘halo.’

Ponsel QWERTY itu melayang kemudian, beberapa sentimeter di atas laptop yang masih menyala—yang tadi digunakan Miranda untuk berburu kebohongan Jono—sebelum akhirnya terbanting di sudut kamar.

Sudah tak memberi Jono kesempatan bicara di awal, Miranda juga tak memberinya kesempatan bicara di akhir. Perempuan itu memang ratu tega, tak sabar, dan kejam di saat bersamaan.

Sementara di seberang sana—di kamar yang bau apek—tanpa kesempatan untuk menjelaskan, Jono kian tersudut. Ia meringkuk, sesegukan telah diputuskan oleh Miranda.

Putus asa, inisiatif ia menelan tujuh tablet entah obat apa. Tentu saja jumlah itu tidak dipilih secara acak; itu adalah tanggal lahir Miranda. Dikiranya, Miranda akan luluh. Malang, nyawanya justru melayang beberapa jam setelahny

Kamis, 26 Maret 2020

Catatan #1

Aku ingat sekali waktu itu.
Aku adalah bocah usia sembilan, bersama kawan-kawan bermain di kebun mentimun tepat di belakang rumah seorang Nenek. 
Diam-diam beliau hampiri kami lalu hadiahkan masing-masing satu mentimun. 
Katanya, "lain kali, kalau mau, minta saja, jangan mencuri."
Tak ada yang mencuri. Kami hanya berkeliling, bermain sembari mencari belalang. 
Tapi... itu peringatan baik, jadi tak perlu disangkal.

Kami jarang terlibat percakapan dengan durasi yang panjang, tetapi tetangga yang tak sekalipun mengeluhkan karakternya tampak cukup untuk menyatakan bahwa beliau adalah tetangga yang baik. Seingatku pun beliau tidak pernah semena-mena kepada para tetangganya. 

Hari ini, Beliau berpulang ke rumah Bapa di Sorga.


Hidup ini misteri. Kita dipertemukan. Kadang-kadang ditakdirkan menjadi tetangga, teman, atau apa saja. Kita tidak bisa pastikan siapa yang akan melihat siapa lebih dulu tiada.
Untuk ketidaktahuan itu, mari bersama-sama kita upayakan segala sikap baik kepada siapapun. Agar jika saat kita tiba, hanya hal baik yang masing-masing kita ingat. 

Selasa, 31 Desember 2019

31.12.2019

Siapapun yang hadir di hidup kita, suka atau tidak, mereka adalah orang yang tepat untuk hadir. Mereka akan selalu memberikan pesan dan pelajaran soal kehidupan. Apapun yang telah berakhir, selalu berakhir di waktu yang tepat.

Hitungan jam, 2019 berganti.
Mari belajar lewat semua peristiwa yang kita alami. Belajar mengambil hikmah juga belajar mengikhlaskan.

Terimakasih untuk setiap pertemuan, perpisahan, pencapaian, kegagalan, dan,
Hai, aku siap menyerap pesan dan pelajaran  lainnya. Jika kau adalah salah satu yang ditakdirkan untuk hadir ke hidupku nanti lalu menemukan tulisan ini, kau akan tahu bahwa aku telah menunggu kedatanganmu bahkan sebelum kita dipertemukan.



We're just catching and releasing what builds up throughout the day. It gets into your body, It flows right through your blood. We can tell each other secrets and remember how to love ♫♫♫♫

Minggu, 25 Agustus 2019

Dear Dhani

Semua orang ingin yang terbaik, Dhani, tapi mau bagaimana lagi?
Manusia berencana dan berusaha, jika pantas mendapatkan, maka Tuhan akan kabulkan.

Usiamu dua puluh tiga saat kau pergi. Selepas pergimu, kekasihmu pun pergi. Ia tak ingin tinggal disini lebih lama — melewatkan hari yang meniadakanmu lagi disampingnya

Dhani, aku tak pernah mendengarnya mengutuk waktu yang kurang lama memberi kalian kebersamaan, tapi entah dalam sendirinya.
Bahkan menjelang empat tahun kepergianmu, belum sekalipun ia kembali ke kota ini.
Barangkali ia belum mampu meredakan sensi, atau barangkali ia sudah temukan penggantimu di belahan bumi yang ia pijak kini.
Tapi, Dhani. Itu bukan masalah kan?
Kau sudah pergi, Ia pun harus melanjutkan hidup.

Tidur yang nyenyak, Dhani. 

Rabu, 07 November 2018

Bunga Kancing dan Presensi Kakek di Ingatan

Melelahkan memang, saat kita tak bisa mengingat sesuatu dengan jelas, tapi saat mengingat adanya selalu muncul perasaan seolah ia pernah subur di ingatan.

Enam belas tahun sudah setelah Kakek berpulang ke dimensi yang kelak kita semua akan kembali. 
Saat itu usiaku enam dan aku tidak tahu apakah saat merayakan kepulangannya aku sempat menangisinya atau hanya sibuk bermain bersama teman-teman. 
Untuk saat-saat kepulangannya yang tak lagi mampu kukisahkan itu, sampai hari ini pun aku masih belum benar-benar memahami bagaimana seharusnya kepulangan seseorang dirayakan. Aku hanya tahu bahwa tak boleh ada perubahan dalam cara merayakannya.
Hanya perlu diikhlaskan, diurus dan didoakan. 

Sore itu, aku di daerah dataran tinggi. Berjalan di pasar kota, seorang diri. Sesekali kudengar suara pedagang menawarkan pada siapa saja yang melintasi kiosnya.
Kepadaku salah satunya.
"Bunga, Nakku?.. murah, lihat-lihat aja dulu"
Kuarahkan tangan berisyarat tidak. Sambil mengembangkan senyuman, aku melempar pandangan kearah suara itu datang. Kudapati seorang wanita paruh baya membalas senyumku — tengah berjongkok pada jalur yang dibuat setapak, yang di kanan kirinya, pot-pot bunga telah ditata berjajar.
Belum kulewati seluruh hamparan dagangannya, mataku lekas ditahan oleh jajaran bunga berwarna ungu kemerahan. Aku spontan berjongkok untuk memastikan. 

Kembali, wanita itu berkata :
"Silakan dilihat, Nakku..."
Menyadari lapak itu masih miliknya, aku tanyakan padanya sesuatu.
"Bi, ini bunga apa?"
"O.. itu bunga kancing, Nakku. Ada juga yang bilang bunga kenop."
Aku mengangguk. Setelah belasan tahun berlalu, akhirnya aku tahu nama bunga itu. Aku menemukannya lagi setelah sempat kupikir punah sebab beberapa tahun terakhir tak lagi kutemukan di pekarangan rumah-rumah. 
Entah apa sebabnya. Entah karena pernah tumbuh rimbun di muka rumah Kakek dan Nenek atau karena pernah tumbuh rimbun di pusara Kakek. Yang pasti, ingatanku selalu terbawa pada Kakek setiap kali melihatnya.


Karenanya, kubeli satu. Untuk ku kembangbiakkan di halaman rumah Ayah dan Ibuku. 

Kepada Tuhan,
aku tidak mengenal dan mengingat banyak hal tentang Kakekku. Namun, aku bersyukur untuk enam tahun yang pernah kulalui dengannya meski tak satupun kenangan bisa kuingat pernah kami lalui bersama. 
Juga untuk Kakekku yang satunya, yang tak pernah kutahu wajahnya. Yang telah Kau takdirkan berpulang, tujuh tahun sebelum aku dilahirkan. 
Berikan  mereka ketenangan dan singgasana yang nyaman dalam penantian, sampai tiba saat perjalanan semesta Kau hentikan, dan seluruh makhluk telah berpulang kesana.

Selasa, 02 Oktober 2018

Lelaki yang Membawa Karung

Lelaki itu. Kutaksir usianya sekitar tiga atau empat puluhan. Aku melihatnya melintas dari muka rumah berkali-kali dalam sehari.

Kali pertama kami berpapasan adalah bulan lalu , saat aku hendak membeli sayuran ke warung. Sekitar pukul delapan pagi. Ia mengenakan kaos berkerah, celana pendek selutut dan juga topi. Wajahnya tampak begitu lelah, tapi segaris senyum masih bisa terlihat disana. Tatapannya terfokus lurus kedepan sambil menjinjing sebuah karung di sebelah tangannya. Karenanya, aku tak bisa berhenti beratensi.

Lalu siang dan sore setelahnya, ia kembali melintas. Lagi dan lagi dengan ekspresi yang sama.

Beberapa hari setelahnya, ekspresinya, aktivitas mondar-mandirnya, sama saja. Aku jadi punya hobi baru — mengamatinya diam-diam dari balik kaca jendela. Jam jam ia melintas pun seolah sudah terprogram di kepala.
Total ia melintas jika dihitung adalah enam kali dalam sehari.
Soal ekspresi, aku punya dua asumsi. Pertama, ia sedang dalam masalah yang tidak bisa menenangkan kepalanya, sehingga hanya sebatas itulah sumringah yang mampu ia hadirkan. Kedua, wajahnya memang demikian. Jadi sebaiknya perkara ekspresi tidak usah lagi kupikirkan.

Pada sore lainnya, aku teringat sesuatu. Kucingku. Sudah dua hari tidak pulang. Aku cemas ia lupa makan karena terlalu asik menggoda betina tetangga. Dengan beberapa potong ikan di dalam wadah, aku putuskan menyusuri jalanan sekitar rumah — mencarinya.

Tak jauh dari rumah, sedang ada pembangunan sebuah rumah. Letaknya di pertigaan belakang. Aku baru tahu karna aku jarang melewatinya. Beberapa pekerja tampak begitu sibuk dengan bagiannya masing-masing. Sementara di depan salah satu rumah tetangga, aku melihat kucingku sedang asik menjilati bulunya. Letaknya di sisi kanan rumah yang sedang dibangun itu — di jalan sebelahnya.  Aku bergegas. Saat akan memasuki jalan rumah itu berada, di samping lain bangunan, aku melihat seseorang sedang memasang batu-bata. Adalah lelaki itu. Lelaki yang selalu kulihat membawa karung. Ternyata lalunya setiap pagi adalah untuk bekerja. Ia seorang kuli bangunan disini. 

Aku tak tahu mana yang harus mataku prioritaskan setelahnya. Di satu sisi, kemunculan sosok itu seperti sebuah informasi baru yang tak ingin aku lewatkan. Di sisi lain, jika aku menunda menghampiri kucingku, ia bisa hilang lagi dari pandangan. Akhirnya, kuwujudkan keduanya dalam waktu yang berdekatan. "Nck.. nck.. nck.." aku memanggil sambil mengisyaratkan tangan. Kucingku menoleh dan segera berlari kearahku. Kubukakan wadah yang kubawa dari rumah, membiarkan ia menikmati santapannya sambil aku terus mengamati lelaki itu. Ada rasa iba yang hadir setiap kali menatapnya, tanpa bisa kujelaskan mengapa. 

Aku larut dalam pertanyaan yang terus berseliweran di dalam kepala— kemana dan mengapa ia mondar-mandir setiap hari?
Mungkin sekitar tiga sampai empat menit sampai kemudian, kucingku menggosok-gosokkan kepalanya ke lututku — membuyarkan. Ternyata, ia sudah menghabiskan santapannya. Aku menutup kembali wadah itu dan bangkit dari posisiku. Disini berlama-lama hanya akan membuat tetangga lain bertanya-tanya. Jadi, kuputuskan pulang dan mengabaikan rasa ingin tahu — yang jika dipedulikan justru akan semakin besar.

Hari ini, sekitar pukul setengah empat sore, sepulang dari kampus. Suara azan berkumandang. Tepat di depan gerbang masuk masjid terdekat dengan rumah, kami berpapasan. Tolong diingat. Terdekat, bukan berarti dekat. Tak ketinggalan karungnya. Ia tampak tergesa dan mataku tak bisa berhenti mengikuti langkahnya.

Ternyata, ada yang luput dari pengamatanku selama ini. Yaitu saat saat dimana aku akan melihatnya melintas, adalah setiap kali azan berkumandang. Lalu nya adalah untuk memenuhi panggilan azan, tepat pada waktunya. Memenuhi kewajibannya sebagai seorang hamba yang mencintai Tuhannya. 

Lelaki itu. Kutaksir usianya sekitar tiga atau empat puluhan. Aku melihatnya melintas dari muka rumah berkali-kali dalam sehari. 
Pertama, saat ia berangkat kerja di pagi hari. Kedua, siang hari, saat azan zuhur berkumandang, ia  menuju masjid untuk menunaikan ibadah sholat. Ketiga, seusai menunaikan ibadah sholat hendak kembali lagi ke lokasi ia bekerja. Keempat, sore hari, saat azan ashar berkumandang, ia akan menuju masjid untuk menunaikan ibadah sholat. Kelima, seusai menunaikan ibadah sholat dan kembali lagi ke lokasi ia bekerja. Keenam, sore yang lebih gelap, saat pulang setelah lelah bekerja. 
Inilah alasan ia melintas berkali-kali. 

Aku merasa malu. Meski harus berjalan kaki menempuh jarak panjang dari tempatnya bekerja ke masjid, ia tak gentar. Tak ingin meninggalkan kewajibannya, tetap menyempatkan diri untuk bersimpuh — menyembah Tuhan semesta alam. Sedang aku, yang masih memiliki begitu banyak waktu lengang, aku bahkan sering enggan melaksanakan segera — menuda nunda, bahkan tak jarang sampai lupa melaksanakannya. Istighfar, Istighfar, Istighfar..

Semoga pada tiap tiap kejadian, pada tiap tiap gerakan, interaksi insan, dan sabda alam, kita mau dan mampu melihat kuasa Allah yang Maha segala, sehingga kita menjadi semakin dekat denganNya. Aamiin ya Rabbal'alamin .

Sedang mendengarkan Kuldesak - Ahmad Dhani