Lelaki itu. Kutaksir usianya sekitar tiga atau empat puluhan. Aku melihatnya melintas dari muka rumah berkali-kali dalam sehari.
Kali pertama kami berpapasan adalah bulan lalu , saat aku hendak membeli sayuran ke warung. Sekitar pukul delapan pagi. Ia mengenakan kaos berkerah, celana pendek selutut dan juga topi. Wajahnya tampak begitu lelah, tapi segaris senyum masih bisa terlihat disana. Tatapannya terfokus lurus kedepan sambil menjinjing sebuah karung di sebelah tangannya. Karenanya, aku tak bisa berhenti beratensi.
Lalu siang dan sore setelahnya, ia kembali melintas. Lagi dan lagi dengan ekspresi yang sama.
Beberapa hari setelahnya, ekspresinya, aktivitas mondar-mandirnya, sama saja. Aku jadi punya hobi baru — mengamatinya diam-diam dari balik kaca jendela. Jam jam ia melintas pun seolah sudah terprogram di kepala.
Total ia melintas jika dihitung adalah enam kali dalam sehari.
Soal ekspresi, aku punya dua asumsi. Pertama, ia sedang dalam masalah yang tidak bisa menenangkan kepalanya, sehingga hanya sebatas itulah sumringah yang mampu ia hadirkan. Kedua, wajahnya memang demikian. Jadi sebaiknya perkara ekspresi tidak usah lagi kupikirkan.
Pada sore lainnya, aku teringat sesuatu. Kucingku. Sudah dua hari tidak pulang. Aku cemas ia lupa makan karena terlalu asik menggoda betina tetangga. Dengan beberapa potong ikan di dalam wadah, aku putuskan menyusuri jalanan sekitar rumah — mencarinya.
Tak jauh dari rumah, sedang ada pembangunan sebuah rumah. Letaknya di pertigaan belakang. Aku baru tahu karna aku jarang melewatinya. Beberapa pekerja tampak begitu sibuk dengan bagiannya masing-masing. Sementara di depan salah satu rumah tetangga, aku melihat kucingku sedang asik menjilati bulunya. Letaknya di sisi kanan rumah yang sedang dibangun itu — di jalan sebelahnya. Aku bergegas. Saat akan memasuki jalan rumah itu berada, di samping lain bangunan, aku melihat seseorang sedang memasang batu-bata. Adalah lelaki itu. Lelaki yang selalu kulihat membawa karung. Ternyata lalunya setiap pagi adalah untuk bekerja. Ia seorang kuli bangunan disini.
Aku tak tahu mana yang harus mataku prioritaskan setelahnya. Di satu sisi, kemunculan sosok itu seperti sebuah informasi baru yang tak ingin aku lewatkan. Di sisi lain, jika aku menunda menghampiri kucingku, ia bisa hilang lagi dari pandangan. Akhirnya, kuwujudkan keduanya dalam waktu yang berdekatan. "Nck.. nck.. nck.." aku memanggil sambil mengisyaratkan tangan. Kucingku menoleh dan segera berlari kearahku. Kubukakan wadah yang kubawa dari rumah, membiarkan ia menikmati santapannya sambil aku terus mengamati lelaki itu. Ada rasa iba yang hadir setiap kali menatapnya, tanpa bisa kujelaskan mengapa.
Aku larut dalam pertanyaan yang terus berseliweran di dalam kepala— kemana dan mengapa ia mondar-mandir setiap hari?
Mungkin sekitar tiga sampai empat menit sampai kemudian, kucingku menggosok-gosokkan kepalanya ke lututku — membuyarkan. Ternyata, ia sudah menghabiskan santapannya. Aku menutup kembali wadah itu dan bangkit dari posisiku. Disini berlama-lama hanya akan membuat tetangga lain bertanya-tanya. Jadi, kuputuskan pulang dan mengabaikan rasa ingin tahu — yang jika dipedulikan justru akan semakin besar.
Hari ini, sekitar pukul setengah empat sore, sepulang dari kampus. Suara azan berkumandang. Tepat di depan gerbang masuk masjid terdekat dengan rumah, kami berpapasan. Tolong diingat. Terdekat, bukan berarti dekat. Tak ketinggalan karungnya. Ia tampak tergesa dan mataku tak bisa berhenti mengikuti langkahnya.
Ternyata, ada yang luput dari pengamatanku selama ini. Yaitu saat saat dimana aku akan melihatnya melintas, adalah setiap kali azan berkumandang. Lalu nya adalah untuk memenuhi panggilan azan, tepat pada waktunya. Memenuhi kewajibannya sebagai seorang hamba yang mencintai Tuhannya.
Lelaki itu. Kutaksir usianya sekitar tiga atau empat puluhan. Aku melihatnya melintas dari muka rumah berkali-kali dalam sehari.
Pertama, saat ia berangkat kerja di pagi hari. Kedua, siang hari, saat azan zuhur berkumandang, ia menuju masjid untuk menunaikan ibadah sholat. Ketiga, seusai menunaikan ibadah sholat hendak kembali lagi ke lokasi ia bekerja. Keempat, sore hari, saat azan ashar berkumandang, ia akan menuju masjid untuk menunaikan ibadah sholat. Kelima, seusai menunaikan ibadah sholat dan kembali lagi ke lokasi ia bekerja. Keenam, sore yang lebih gelap, saat pulang setelah lelah bekerja.
Inilah alasan ia melintas berkali-kali.
Aku merasa malu. Meski harus berjalan kaki menempuh jarak panjang dari tempatnya bekerja ke masjid, ia tak gentar. Tak ingin meninggalkan kewajibannya, tetap menyempatkan diri untuk bersimpuh — menyembah Tuhan semesta alam. Sedang aku, yang masih memiliki begitu banyak waktu lengang, aku bahkan sering enggan melaksanakan segera — menuda nunda, bahkan tak jarang sampai lupa melaksanakannya. Istighfar, Istighfar, Istighfar..
Semoga pada tiap tiap kejadian, pada tiap tiap gerakan, interaksi insan, dan sabda alam, kita mau dan mampu melihat kuasa Allah yang Maha segala, sehingga kita menjadi semakin dekat denganNya. Aamiin ya Rabbal'alamin .
Sedang mendengarkan Kuldesak - Ahmad Dhani