Melelahkan memang, saat kita tak bisa mengingat sesuatu dengan jelas, tapi
saat mengingat adanya selalu muncul perasaan seolah ia pernah subur di ingatan.
Enam belas tahun sudah setelah Kakek berpulang ke dimensi yang kelak kita semua akan kembali.
Saat itu usiaku enam dan aku tidak tahu apakah saat merayakan kepulangannya aku sempat menangisinya atau hanya sibuk bermain bersama teman-teman.
Untuk saat-saat kepulangannya yang tak lagi mampu kukisahkan itu, sampai hari ini pun aku masih belum benar-benar memahami bagaimana seharusnya kepulangan seseorang dirayakan. Aku hanya tahu bahwa tak boleh ada perubahan dalam cara merayakannya.
Hanya perlu diikhlaskan, diurus dan didoakan.
Hanya perlu diikhlaskan, diurus dan didoakan.
Sore itu, aku di daerah dataran tinggi. Berjalan di pasar kota, seorang diri. Sesekali kudengar suara pedagang menawarkan pada siapa saja yang melintasi kiosnya.
Kepadaku salah satunya.
Kepadaku salah satunya.
"Bunga, Nakku?.. murah, lihat-lihat aja dulu"
Kuarahkan tangan berisyarat tidak. Sambil mengembangkan senyuman, aku melempar pandangan kearah suara itu datang. Kudapati seorang wanita paruh baya membalas senyumku — tengah berjongkok pada jalur yang dibuat setapak, yang di kanan kirinya, pot-pot bunga telah ditata berjajar.
Belum kulewati seluruh hamparan dagangannya, mataku lekas ditahan oleh jajaran bunga berwarna ungu kemerahan. Aku spontan berjongkok untuk memastikan.
Kembali, wanita itu berkata :
"Silakan dilihat, Nakku..."
Menyadari lapak itu masih miliknya, aku tanyakan padanya sesuatu.
"Bi, ini bunga apa?"
"O.. itu bunga kancing, Nakku. Ada juga yang bilang bunga kenop."
Aku mengangguk. Setelah belasan tahun berlalu, akhirnya aku tahu nama bunga itu. Aku menemukannya lagi setelah sempat kupikir punah sebab beberapa tahun terakhir tak lagi kutemukan di pekarangan rumah-rumah.
Entah apa sebabnya. Entah karena pernah tumbuh rimbun di muka rumah Kakek dan Nenek atau karena pernah tumbuh rimbun di pusara Kakek. Yang pasti, ingatanku selalu terbawa pada Kakek setiap kali melihatnya.
Karenanya, kubeli satu. Untuk ku kembangbiakkan di halaman rumah Ayah dan Ibuku.
Kepada Tuhan,
aku tidak mengenal dan mengingat banyak hal tentang Kakekku. Namun, aku bersyukur untuk enam tahun yang pernah kulalui dengannya meski tak satupun kenangan bisa kuingat pernah kami lalui bersama.
aku tidak mengenal dan mengingat banyak hal tentang Kakekku. Namun, aku bersyukur untuk enam tahun yang pernah kulalui dengannya meski tak satupun kenangan bisa kuingat pernah kami lalui bersama.
Juga untuk Kakekku yang satunya, yang tak pernah kutahu wajahnya. Yang telah Kau takdirkan berpulang, tujuh tahun sebelum aku dilahirkan.
Berikan mereka ketenangan dan singgasana yang nyaman dalam penantian, sampai
tiba saat perjalanan semesta Kau hentikan, dan seluruh makhluk telah berpulang kesana.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar