Selasa, 19 Mei 2020

Impulsif

Miranda tak kuasa menahan amarah yang membuncah. Dengan Nexian QWERTY tipe NX-G522 miliknya, ia bergegas menelepon Jono.

“Kurang ajar kau, Jono! Kita putus! Menikahlah kau dengan si kerempeng itu!” hardiknya, bagai kilat yang menyambar sesaat setelah nada hubung panggilan menandakan panggilan telah tersambung. Bahkan sebelum Jono sempat mengucapkan ‘halo.’

Ponsel QWERTY itu melayang kemudian, beberapa sentimeter di atas laptop yang masih menyala—yang tadi digunakan Miranda untuk berburu kebohongan Jono—sebelum akhirnya terbanting di sudut kamar.

Sudah tak memberi Jono kesempatan bicara di awal, Miranda juga tak memberinya kesempatan bicara di akhir. Perempuan itu memang ratu tega, tak sabar, dan kejam di saat bersamaan.

Sementara di seberang sana—di kamar yang bau apek—tanpa kesempatan untuk menjelaskan, Jono kian tersudut. Ia meringkuk, sesegukan telah diputuskan oleh Miranda.

Putus asa, inisiatif ia menelan tujuh tablet entah obat apa. Tentu saja jumlah itu tidak dipilih secara acak; itu adalah tanggal lahir Miranda. Dikiranya, Miranda akan luluh. Malang, nyawanya justru melayang beberapa jam setelahny