Senin, 01 Mei 2017

Puput

Semburat sore memintasi celah dedaunan. Sesekali angin bertiup kencang, merebak kesejukan di wajahku. Tarikan sirus si gula gula kapas, tergurat jelas di cakrawala. Bocah-bocah di seberang jalanan lengang. Gelak tawa mereka menjumput senyum dari dalam diri, yang baru ku sadari adanya, ketika Ibu bertanya — kok senyum-senyum sendiri?. 
Senyumku berlanjut. Bocah-bocah itu, mereka semua berteman, tapi tak selalu memainkan permainan yang sama. Terkadang membagi diri menjadi beberapa kelompok bermain. Sebagian bermain masak-memasak, sebagian bermain sepeda. Sisanya bermain sesuai selera. Namun, ada seorang remaja di kerumunan bocah laki-laki, ia selalu menarik perhatianku. Joshua. Jojo orang sering menyapanya. Usianya kira-kira empat  atau lima belas. Selain yang paling tua, tubuhnya juga yang paling besar.
Walau selalu memiliki kesempatan bergurau bersama, selalu saja, ada sedak di rongga dada. Untuk satu hal yang aku tak pernah tahu bagaimana cara mengutarakannya, rindu yang ku endap belasan tahun untuk kakak perempuannya —  Puput, teman di masa kecilku.
Tak banyak yang bisa kuingat. Selain tubuhnya yang mungil, suaranya yang berat namun terdengar lucu. Rambutnya yang lurus entah semana yang senang diikat ekor kuda juga minggu terakhir yang kami habiskan dengan tidur siang bersama. Jangankan detik-detik kepergiannya, kapan dan disebabkan oleh apa, aku bahkan tak lagi mampu mengingat siapa nama sebenarnya. Yang ku tahu, hari itu, aku terbangun di pagi hari. Mungkin sekitar pukul enam. Ibu berkata bahwa puput sudah pulang setelah kemarin siang kami tidur siang bersama. Tanpa pamit, tanpa sekalipun ia memberitahu dimana dan kapan kami akan bertemu untuk kembali bermain bersama.

Entah apa yang Ibumu rasakan setiap kali berpapasan denganku. Terlebih hari itu, ketika ia menanyakan berapa usia dan sudah semester berapa kuliahku. Sepertinya ia ingin bernostalgia sejenak, andai kamu putrinya masih bersamanya, usia kita pasti sama.

Kamis, 16 Maret 2017

Dialog Hujan #2

Hanya hujan yang tertinggal. Usai sudah gemuruh yang semula menggelegar. Walau letukannya masih begitu keras, peduli apa? Aku berteduh karena ngeri membayangkan halilintar menyambar.
Aku mulai berjalan. Menembus deras yang mengaluk kejauhan berhalimun — menyekat pandangan. Kerudung hitam yang ku kenakan penuh dengan titik putih yang lama kelamaan menjadi bentuk tak karuan. Hujan telah menyimbahiku. Bulir-bulir air kurasa seperti bertemu di pelipis dan ujung daguku.

Hujan itu titik atau garis? 
Seseorang yang bukan kamu pernah bilang, bahwa hujan itu garis bila dipandang secara horizontal, titik bila secara vertikal. Lalu aku mendongak. Berusaha menemukan wujud titik dari hujan. Tetapi, setiap kali aku coba menatap secara vertikal, mataku tak sanggup menerawang. Mungkin aku mulai meragukan titik yang pernah kubicarakan. Sebab untuk benar-benar menitikkan ini semua butuh sebuah benturan keras di kepala. Dan, sejauh apapun aku membawa keyakinan titik itu, ia selalu saja menjelma garis. Bagi kita, garis berarti berkelanjutan.

Setujukah kau jika kubilang titik atau garis adalah bagian dari jarak, waktu dan cara kita merasakan? Mmm.. Mungkin juga kenangan?

Hujan mengerubungiku tanpa jeda. Langkahku melambat. Di selasar jalan, beberapa anak berlarian dengan pakaian dalam. Berdiri pada curah atap rumah-rumah, mendongakkan kepala dan menengadahkan tangan. Jika kau tanya mereka saat dewasa nanti, mereka pasti setuju denganmu. Hujan itu garis. Sekalipun mereka menitikkan pertemuan satu sama lain, kenangan itu akan tetap menjadikan hujan itu garis. Berkelanjutan. 

Boleh aku tanya sesuatu? Menurutmu, untuk apa hujan itu jatuh? Terlepas dari proses semestinya yang orang-orang jelaskan dalam siklus dan kebutuhan alam? Selain menjadi pemicu bagi banyak ingatan silam? Selain untuk mengenalkan petrikor si bau tanah basah kepada orang-orang? 

Aku melihat mereka jatuh menghempas tanah, menghempas aspal jalan, menghempas apa saja yang ada. Meski terhempas begitu keras, mereka tampak seolah bergembira. Semakin keras ia terhempas, semakin tinggi ia melompat. Semakin tinggi ia melompat, semakin ia terlihat bahagia. Tidakkah kau juga memperhatikannya? Atau hanya aku saja?

Aku berhenti sejenak memandangi jalanan yang penuh dengan lompatan hujan. Perlahan pandanganku meninggi hingga ke langit pekat. Pengamatan dan perasaan ini menggiring nalarku. Pantas saja aku merasa mereka seolah bergembira. Alasan lain mereka jatuh adalah membuatku merasa cemburu, setiap waktu, jatuh mereka akan lebih sering menyapu nisanmu ketimbang tanganku.

16 Maret 2016. 14.30 WIB