Kamis, 16 Maret 2017

Dialog Hujan #2

Hanya hujan yang tertinggal. Usai sudah gemuruh yang semula menggelegar. Walau letukannya masih begitu keras, peduli apa? Aku berteduh karena ngeri membayangkan halilintar menyambar.
Aku mulai berjalan. Menembus deras yang mengaluk kejauhan berhalimun — menyekat pandangan. Kerudung hitam yang ku kenakan penuh dengan titik putih yang lama kelamaan menjadi bentuk tak karuan. Hujan telah menyimbahiku. Bulir-bulir air kurasa seperti bertemu di pelipis dan ujung daguku.

Hujan itu titik atau garis? 
Seseorang yang bukan kamu pernah bilang, bahwa hujan itu garis bila dipandang secara horizontal, titik bila secara vertikal. Lalu aku mendongak. Berusaha menemukan wujud titik dari hujan. Tetapi, setiap kali aku coba menatap secara vertikal, mataku tak sanggup menerawang. Mungkin aku mulai meragukan titik yang pernah kubicarakan. Sebab untuk benar-benar menitikkan ini semua butuh sebuah benturan keras di kepala. Dan, sejauh apapun aku membawa keyakinan titik itu, ia selalu saja menjelma garis. Bagi kita, garis berarti berkelanjutan.

Setujukah kau jika kubilang titik atau garis adalah bagian dari jarak, waktu dan cara kita merasakan? Mmm.. Mungkin juga kenangan?

Hujan mengerubungiku tanpa jeda. Langkahku melambat. Di selasar jalan, beberapa anak berlarian dengan pakaian dalam. Berdiri pada curah atap rumah-rumah, mendongakkan kepala dan menengadahkan tangan. Jika kau tanya mereka saat dewasa nanti, mereka pasti setuju denganmu. Hujan itu garis. Sekalipun mereka menitikkan pertemuan satu sama lain, kenangan itu akan tetap menjadikan hujan itu garis. Berkelanjutan. 

Boleh aku tanya sesuatu? Menurutmu, untuk apa hujan itu jatuh? Terlepas dari proses semestinya yang orang-orang jelaskan dalam siklus dan kebutuhan alam? Selain menjadi pemicu bagi banyak ingatan silam? Selain untuk mengenalkan petrikor si bau tanah basah kepada orang-orang? 

Aku melihat mereka jatuh menghempas tanah, menghempas aspal jalan, menghempas apa saja yang ada. Meski terhempas begitu keras, mereka tampak seolah bergembira. Semakin keras ia terhempas, semakin tinggi ia melompat. Semakin tinggi ia melompat, semakin ia terlihat bahagia. Tidakkah kau juga memperhatikannya? Atau hanya aku saja?

Aku berhenti sejenak memandangi jalanan yang penuh dengan lompatan hujan. Perlahan pandanganku meninggi hingga ke langit pekat. Pengamatan dan perasaan ini menggiring nalarku. Pantas saja aku merasa mereka seolah bergembira. Alasan lain mereka jatuh adalah membuatku merasa cemburu, setiap waktu, jatuh mereka akan lebih sering menyapu nisanmu ketimbang tanganku.

16 Maret 2016. 14.30 WIB          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar