Ragam kicau burung membangunkanku. Entah bertengger dimana, tak satupun kutemukan wujudnya.
Setelah menaikkan penguncinya, kutekan keluar jendela kayu rumah panggung yang kutinggali selama dua malam.
Kabut rendah masih memenuhi seluruh arah sejauh aku memandang, maka kunanti dengan sabar. Butuh hari sedikit lebih terang untuk menyisir sebuah lapangan, yang sore kemarin kulihat dari jendela belakang.
Hujan deras disertai petir yang keras pada hari sebelumnya membuatku malas kemana-mana maka hari ini, sebelum pulang, aku sempatkan diri kesana. Akan lama setelah hari ini untuk menemukan kesempatan berkunjung lagi kesini. Aku tidak ingin melewatkannya.
Setelah matahari merangkak naik, kubuka pintu dan mengenakan sebuah sandal sebelum menuruni anak tangga. Sinar kemerahan dari sela ranting pohon yang daunnya menjuntai — memayungi jalan setapak menuju lapangan. Sinar itu bergelayut manja, bersebelahan dengan gunung yang bertahun belakangan, amarahnya belum juga menuai tenang — Sinabung. Sungguh pemandangan yang tak mungkin kutemukan di belakang rumahku di kota.
Aku takjub dengan satu lagi karya Tuhan. Bergeming, tapi masih berkedip.
Gemerisik dedaunan dan angin kencang menghunyung tanpa aba-aba hingga buyar sesaat keindahan di depan mata. Debu yang terbawa angin menyerempet bola mata, membuatku spontan berbalik kearah lain. Terlalu ragu untuk menyentuh, kupejamkan kuat, menyisakan perih hingga berair mata. Tiba-tiba saja, seorang perempuan berselendang jongkit, sarung yang melilit di pinggang, berdiri di depanku dan tersenyum. Cantik.
Perlahan ia mendekat. Kutatap tepat di manik matanya yang hitam pekat. Senyumnya begitu teduh, tapi entah mengapa, hatiku cemas. Aku tidak mengenalnya namun bukan sesuatu yang patut dicurigai jika ia menghampiriku. Orang di desa seperti ini memang dikenal ramah.
Aku ingin bersikap menyenangkan dengan menyodorkan tangan dan menyebutkan nama, tapi ia lebih dulu melakukannya. Tangannya dingin sekali. Sedingin udara pagi ini.
"Aku Ngena"
"Ngena?"
Senyumnya terkembang. Sebuah tahi lalat di sudut bibirnya menjadi salah satu fokus perhatianku. Selain namanya, giginya yang kemerahan membuktikan bahwa ia penduduk sini. Warnanya seperti orang-orang yang memakan sirih pada umumnya.
Sepersekian detik tangan kami berjabatan sebelum akhirnya ia lepaskan. Ngena mulai menyejajarkan posisinya di sebelahku. Turut menghadap matahari yang mulai meninggi, yang lama kelamaan, selama waktu yang kami habiskan dengan diam, lagit mulai berawan.
"Setiap hari adalah masa depan dari masa lalu. Suatu hari, masa depan juga akan menjadi masa lalu." Ia berucap secara mendadak lalu diam sebentar sebelum melanjutkan, "hidup dan fokuslah untuk hari ini." Aku menoleh, sementara Ngena tetap menatap lurus ke depan. Sungguh keindahan berlipat ganda, pikirku. Wajahnya saat kuamati dari samping sini menambah sejuk pagi yang sudah sejuk.
Ngena bergerak. Kali ini kami berhadapan. Senyumnya masih bertahan tapi tatapannya mulai membuatku merasa seram. Mungkinkah ia kecewa karena aku tak membalas? Lagipula, pernyataannya sangat mendadak. Sedang aku tidak memiliki pengalaman dalam memikirkan masa depan.
"Yang kamu katakan itu benar sekali, Ngena" Aku mencoba bersuara.
Bang Ajiiii.....
Kudengar suara Ina memanggil. Aku memalingkan wajah sebentar kearah datangnya suara. Tepat diujung jalan, kulihat Ina berdiri, tangannya mengisyaratkan agar aku kembali. Kupikir hanya sebatas ini lah kesempatanku berbincang dengan Ngena. Saat akan pamit, Ngena menghilang. Ia tak ada bahkan di seluruh arah yang aku tatap.
Gerimis jatuh lagi. Aku berlari kecil mengampiri Ina yang masih menunggu di ujung jalan setapak itu, lalu bersama-sama menuju rumah.
Di jendela, aku menatap bulir-bulir hujan yang jatuh ke tanah. Cukup lama.
Tak ada tanda hujan akan mereda. Aku putuskan untuk tidak menunggu lebih lama. Ina mulai mengembangkan sebuah payung warna-warni yang diameternya cukup besar, yang akan ia gunakan untuk mengantarkanku ke jalan raya— menemukan bus. Setelah pamit kepada Bibi, kami berjalan menembus hujan, sepayung berdua.
Perbukitan mulai tertutupi kabut. Urusan ini, aku memang tak pernah mau rugi, tak mau kehilangan keindahan pemandangan yang tak akan mungkin kutemukan di Kota. Aku terus saja menatap sekelilingku sampai kemudian mataku menangkap sesuatu.
"Ina, apa itu?" Menunjuk ke tepi bukit.
"Itu makam"
"Makam? Masa? Ga se elit makan biasanya"
Di desa seperti ini, makam di kebun itu biasa. Dan makam-makam itu selalu dibuat menjadi jambur.
"Lanai lit keluargana si tading jenda, bang (Keluarganya udah ga ada yang tinggal disini, Bang)"
"Kasian juga "
"Seram."
"Seram?"
"Ue. Beguna gentanyangen (iya hantunya gentayangan.)"
"Kok tau?"
"Nina jelma (kata orang)"
"Cuma satu orang yang pernah liat?"
"Lang! (Engga)"
"Mmm... perempuan?"
"Ue. Mate nguda, ndelis ka. (Iya. Mati muda, bunuh diri pula)"
"Ah? Cantik ga?"
"Kam mau? (Kamu mau?)"
"Kalau cantik kenapa engga"
Kami tertawa.
"Mejile.. Nggo me ah.. seram.. (cantik.. Udah ah, seram)"
"Oh. Oke...."
"Nina jelma si pernah ngidah beguna...(kata orang yang pernah lihat hantunya...)"
"Tadi katanya udah..."
"Mbiar kam? (Kamu takut?)"
"Kok aku? Hahaha Ya engga lah"
"Nina jelma si pernah ngidah beguna, ia er uis jongkit ras ersarung (Cantik. Kata orang yang pernah lihat hantunya, dia berkain jongkit dan bersarung)"
"Ha, Apa?" Meski rasa terkejutku sedikit terlambat, aku terperanjak juga. Kuingat Ngena saat kutemukan pagi tadi. Nafasku senak sesaat. Kusadari ia juga mengenakan kain jongkit dan sarung. Dan yang paling penting, Ngena menghilang.
Aku sempat terhenti. Tapi tak lama, sebab Ina segera menyadari bahwa aku tertinggal dan kembali mundur beberapa langkah untuk memayungiku. Ina yang tak mengerti sempat bertanya mengapa aku begitu terkejut. Aku pun takjub dengan apa yang aku alami. Kenangan luar biasa kubawa pulang. Aku ingin bilang pada Ina. Tapi aku khawatir hanya akan membuatnya merasa takut. Aku tersenyum sekenanya sebelum kami menyebrangi jalan yang lengang. Sepi sekali. Dengan sabar kami menunggu bus datang. Kurang lebih sepuluh menit lamanya. Hujan, adalah satu-satunya yang bisa kami dengarkan.
Menyadari ada bus yang datang, aku bergegas. Khawatir aku tak terlihat dan tertinggal. Menyadari kekhawatiranku, "Mejuah-juah" kata Ina mengarahkan tangannya untuk berjabatan. "Mejuah-juah" balasku menjabatnya sebelum masuk dan duduk di sisi kiri bus. Di sisi kiri, agar bisa menatap makam itu lagi.
Hatiku haru menatap keluar jendela. Menatap makam itu.
Bus bergerak menjauh.
Di dalam kepalaku, perkenalan tak biasa itu terus diputar ulang. "Aku Ngena." Kuingat saat-saat singkat itu. Senyumnya. Tahi lalatnya di sudut bibirnya. Dan teduh wajahnya saat kuamati dari samping.
Kamu pasti salah mengira karena ternya mati tak benar-benar membuat segalanya berhenti. Karna kalau benar berhenti, kau tak akan menemuiku. Kamu menyesal, Ngena?