Rabu, 07 November 2018

Bunga Kancing dan Presensi Kakek di Ingatan

Melelahkan memang, saat kita tak bisa mengingat sesuatu dengan jelas, tapi saat mengingat adanya selalu muncul perasaan seolah ia pernah subur di ingatan.

Enam belas tahun sudah setelah Kakek berpulang ke dimensi yang kelak kita semua akan kembali. 
Saat itu usiaku enam dan aku tidak tahu apakah saat merayakan kepulangannya aku sempat menangisinya atau hanya sibuk bermain bersama teman-teman. 
Untuk saat-saat kepulangannya yang tak lagi mampu kukisahkan itu, sampai hari ini pun aku masih belum benar-benar memahami bagaimana seharusnya kepulangan seseorang dirayakan. Aku hanya tahu bahwa tak boleh ada perubahan dalam cara merayakannya.
Hanya perlu diikhlaskan, diurus dan didoakan. 

Sore itu, aku di daerah dataran tinggi. Berjalan di pasar kota, seorang diri. Sesekali kudengar suara pedagang menawarkan pada siapa saja yang melintasi kiosnya.
Kepadaku salah satunya.
"Bunga, Nakku?.. murah, lihat-lihat aja dulu"
Kuarahkan tangan berisyarat tidak. Sambil mengembangkan senyuman, aku melempar pandangan kearah suara itu datang. Kudapati seorang wanita paruh baya membalas senyumku — tengah berjongkok pada jalur yang dibuat setapak, yang di kanan kirinya, pot-pot bunga telah ditata berjajar.
Belum kulewati seluruh hamparan dagangannya, mataku lekas ditahan oleh jajaran bunga berwarna ungu kemerahan. Aku spontan berjongkok untuk memastikan. 

Kembali, wanita itu berkata :
"Silakan dilihat, Nakku..."
Menyadari lapak itu masih miliknya, aku tanyakan padanya sesuatu.
"Bi, ini bunga apa?"
"O.. itu bunga kancing, Nakku. Ada juga yang bilang bunga kenop."
Aku mengangguk. Setelah belasan tahun berlalu, akhirnya aku tahu nama bunga itu. Aku menemukannya lagi setelah sempat kupikir punah sebab beberapa tahun terakhir tak lagi kutemukan di pekarangan rumah-rumah. 
Entah apa sebabnya. Entah karena pernah tumbuh rimbun di muka rumah Kakek dan Nenek atau karena pernah tumbuh rimbun di pusara Kakek. Yang pasti, ingatanku selalu terbawa pada Kakek setiap kali melihatnya.


Karenanya, kubeli satu. Untuk ku kembangbiakkan di halaman rumah Ayah dan Ibuku. 

Kepada Tuhan,
aku tidak mengenal dan mengingat banyak hal tentang Kakekku. Namun, aku bersyukur untuk enam tahun yang pernah kulalui dengannya meski tak satupun kenangan bisa kuingat pernah kami lalui bersama. 
Juga untuk Kakekku yang satunya, yang tak pernah kutahu wajahnya. Yang telah Kau takdirkan berpulang, tujuh tahun sebelum aku dilahirkan. 
Berikan  mereka ketenangan dan singgasana yang nyaman dalam penantian, sampai tiba saat perjalanan semesta Kau hentikan, dan seluruh makhluk telah berpulang kesana.

Selasa, 02 Oktober 2018

Lelaki yang Membawa Karung

Lelaki itu. Kutaksir usianya sekitar tiga atau empat puluhan. Aku melihatnya melintas dari muka rumah berkali-kali dalam sehari.

Kali pertama kami berpapasan adalah bulan lalu , saat aku hendak membeli sayuran ke warung. Sekitar pukul delapan pagi. Ia mengenakan kaos berkerah, celana pendek selutut dan juga topi. Wajahnya tampak begitu lelah, tapi segaris senyum masih bisa terlihat disana. Tatapannya terfokus lurus kedepan sambil menjinjing sebuah karung di sebelah tangannya. Karenanya, aku tak bisa berhenti beratensi.

Lalu siang dan sore setelahnya, ia kembali melintas. Lagi dan lagi dengan ekspresi yang sama.

Beberapa hari setelahnya, ekspresinya, aktivitas mondar-mandirnya, sama saja. Aku jadi punya hobi baru — mengamatinya diam-diam dari balik kaca jendela. Jam jam ia melintas pun seolah sudah terprogram di kepala.
Total ia melintas jika dihitung adalah enam kali dalam sehari.
Soal ekspresi, aku punya dua asumsi. Pertama, ia sedang dalam masalah yang tidak bisa menenangkan kepalanya, sehingga hanya sebatas itulah sumringah yang mampu ia hadirkan. Kedua, wajahnya memang demikian. Jadi sebaiknya perkara ekspresi tidak usah lagi kupikirkan.

Pada sore lainnya, aku teringat sesuatu. Kucingku. Sudah dua hari tidak pulang. Aku cemas ia lupa makan karena terlalu asik menggoda betina tetangga. Dengan beberapa potong ikan di dalam wadah, aku putuskan menyusuri jalanan sekitar rumah — mencarinya.

Tak jauh dari rumah, sedang ada pembangunan sebuah rumah. Letaknya di pertigaan belakang. Aku baru tahu karna aku jarang melewatinya. Beberapa pekerja tampak begitu sibuk dengan bagiannya masing-masing. Sementara di depan salah satu rumah tetangga, aku melihat kucingku sedang asik menjilati bulunya. Letaknya di sisi kanan rumah yang sedang dibangun itu — di jalan sebelahnya.  Aku bergegas. Saat akan memasuki jalan rumah itu berada, di samping lain bangunan, aku melihat seseorang sedang memasang batu-bata. Adalah lelaki itu. Lelaki yang selalu kulihat membawa karung. Ternyata lalunya setiap pagi adalah untuk bekerja. Ia seorang kuli bangunan disini. 

Aku tak tahu mana yang harus mataku prioritaskan setelahnya. Di satu sisi, kemunculan sosok itu seperti sebuah informasi baru yang tak ingin aku lewatkan. Di sisi lain, jika aku menunda menghampiri kucingku, ia bisa hilang lagi dari pandangan. Akhirnya, kuwujudkan keduanya dalam waktu yang berdekatan. "Nck.. nck.. nck.." aku memanggil sambil mengisyaratkan tangan. Kucingku menoleh dan segera berlari kearahku. Kubukakan wadah yang kubawa dari rumah, membiarkan ia menikmati santapannya sambil aku terus mengamati lelaki itu. Ada rasa iba yang hadir setiap kali menatapnya, tanpa bisa kujelaskan mengapa. 

Aku larut dalam pertanyaan yang terus berseliweran di dalam kepala— kemana dan mengapa ia mondar-mandir setiap hari?
Mungkin sekitar tiga sampai empat menit sampai kemudian, kucingku menggosok-gosokkan kepalanya ke lututku — membuyarkan. Ternyata, ia sudah menghabiskan santapannya. Aku menutup kembali wadah itu dan bangkit dari posisiku. Disini berlama-lama hanya akan membuat tetangga lain bertanya-tanya. Jadi, kuputuskan pulang dan mengabaikan rasa ingin tahu — yang jika dipedulikan justru akan semakin besar.

Hari ini, sekitar pukul setengah empat sore, sepulang dari kampus. Suara azan berkumandang. Tepat di depan gerbang masuk masjid terdekat dengan rumah, kami berpapasan. Tolong diingat. Terdekat, bukan berarti dekat. Tak ketinggalan karungnya. Ia tampak tergesa dan mataku tak bisa berhenti mengikuti langkahnya.

Ternyata, ada yang luput dari pengamatanku selama ini. Yaitu saat saat dimana aku akan melihatnya melintas, adalah setiap kali azan berkumandang. Lalu nya adalah untuk memenuhi panggilan azan, tepat pada waktunya. Memenuhi kewajibannya sebagai seorang hamba yang mencintai Tuhannya. 

Lelaki itu. Kutaksir usianya sekitar tiga atau empat puluhan. Aku melihatnya melintas dari muka rumah berkali-kali dalam sehari. 
Pertama, saat ia berangkat kerja di pagi hari. Kedua, siang hari, saat azan zuhur berkumandang, ia  menuju masjid untuk menunaikan ibadah sholat. Ketiga, seusai menunaikan ibadah sholat hendak kembali lagi ke lokasi ia bekerja. Keempat, sore hari, saat azan ashar berkumandang, ia akan menuju masjid untuk menunaikan ibadah sholat. Kelima, seusai menunaikan ibadah sholat dan kembali lagi ke lokasi ia bekerja. Keenam, sore yang lebih gelap, saat pulang setelah lelah bekerja. 
Inilah alasan ia melintas berkali-kali. 

Aku merasa malu. Meski harus berjalan kaki menempuh jarak panjang dari tempatnya bekerja ke masjid, ia tak gentar. Tak ingin meninggalkan kewajibannya, tetap menyempatkan diri untuk bersimpuh — menyembah Tuhan semesta alam. Sedang aku, yang masih memiliki begitu banyak waktu lengang, aku bahkan sering enggan melaksanakan segera — menuda nunda, bahkan tak jarang sampai lupa melaksanakannya. Istighfar, Istighfar, Istighfar..

Semoga pada tiap tiap kejadian, pada tiap tiap gerakan, interaksi insan, dan sabda alam, kita mau dan mampu melihat kuasa Allah yang Maha segala, sehingga kita menjadi semakin dekat denganNya. Aamiin ya Rabbal'alamin .

Sedang mendengarkan Kuldesak - Ahmad Dhani

Jumat, 10 Agustus 2018

Rindu menyusup diantara alunan lagu
Membawaku kembali ke Agustus, tiga tahun lalu
Saat harus melepasmu
 Terlelap
Di tanah basah bertaburkan bunga.

Jumat, 02 Maret 2018

Ngena

Ragam kicau burung membangunkanku. Entah bertengger dimana, tak satupun kutemukan wujudnya.

Setelah menaikkan penguncinya, kutekan keluar jendela kayu rumah panggung yang kutinggali selama dua malam.

Kabut rendah masih memenuhi seluruh arah sejauh aku memandang, maka kunanti dengan sabar. Butuh hari sedikit lebih terang untuk menyisir sebuah lapangan, yang sore kemarin kulihat dari jendela belakang. 

Hujan deras disertai petir yang keras pada hari sebelumnya membuatku malas kemana-mana maka hari ini, sebelum pulang, aku sempatkan diri kesana. Akan lama setelah hari ini untuk menemukan kesempatan berkunjung lagi kesini. Aku tidak ingin melewatkannya.

Setelah matahari merangkak naik, kubuka pintu dan mengenakan sebuah sandal sebelum menuruni anak tangga. Sinar kemerahan dari sela ranting pohon yang daunnya menjuntai  memayungi jalan setapak menuju lapangan. Sinar itu bergelayut manja, bersebelahan dengan gunung yang bertahun belakangan, amarahnya belum juga menuai tenang  Sinabung. Sungguh pemandangan yang tak mungkin kutemukan di belakang rumahku di kota.
Aku takjub dengan satu lagi karya Tuhan. Bergeming, tapi masih berkedip. 

Gemerisik dedaunan dan angin kencang menghunyung tanpa aba-aba hingga buyar sesaat keindahan di depan mata. Debu yang terbawa angin menyerempet bola mata, membuatku spontan berbalik kearah lain.  Terlalu ragu untuk menyentuh, kupejamkan kuat, menyisakan perih hingga berair mata. Tiba-tiba saja, seorang perempuan berselendang jongkit, sarung yang melilit di pinggang, berdiri di depanku dan tersenyum. Cantik.

Perlahan ia mendekat. Kutatap tepat di manik matanya yang hitam pekat. Senyumnya begitu teduh, tapi entah mengapa, hatiku cemas. Aku tidak mengenalnya namun bukan sesuatu yang patut dicurigai jika ia menghampiriku. Orang di desa seperti ini memang dikenal ramah. 

Aku ingin bersikap menyenangkan dengan menyodorkan tangan dan menyebutkan nama, tapi ia lebih dulu melakukannya. Tangannya dingin sekali. Sedingin udara pagi ini.

"Aku Ngena"
"Ngena?"
Senyumnya terkembang. Sebuah tahi lalat di sudut bibirnya menjadi salah satu fokus perhatianku. Selain namanya, giginya yang kemerahan membuktikan bahwa ia penduduk sini. Warnanya seperti orang-orang yang memakan sirih pada umumnya. 

Sepersekian detik tangan kami berjabatan sebelum akhirnya ia lepaskan. Ngena mulai menyejajarkan posisinya di sebelahku. Turut menghadap matahari yang mulai meninggi, yang lama kelamaan, selama waktu yang kami habiskan dengan diam, lagit mulai berawan.

"Setiap hari adalah masa depan dari masa lalu. Suatu hari, masa depan juga akan menjadi masa lalu." Ia berucap secara mendadak lalu diam sebentar sebelum melanjutkan, "hidup dan fokuslah untuk hari ini." Aku menoleh, sementara Ngena tetap menatap lurus ke depan. Sungguh keindahan berlipat ganda, pikirku. Wajahnya saat kuamati dari samping sini menambah sejuk pagi yang sudah sejuk. 

Ngena bergerak. Kali ini kami berhadapan. Senyumnya masih bertahan tapi tatapannya mulai membuatku merasa seram. Mungkinkah ia kecewa karena aku tak membalas? Lagipula, pernyataannya sangat mendadak. Sedang aku tidak memiliki pengalaman dalam memikirkan masa depan.

"Yang kamu katakan itu benar sekali, Ngena" Aku mencoba bersuara.

Bang Ajiiii.....
Kudengar suara Ina memanggil. Aku memalingkan wajah sebentar kearah datangnya suara. Tepat diujung jalan, kulihat Ina berdiri, tangannya mengisyaratkan agar aku kembali. Kupikir hanya sebatas ini lah kesempatanku berbincang dengan Ngena. Saat akan pamit, Ngena menghilang. Ia tak ada bahkan di seluruh arah yang aku tatap.

Gerimis jatuh lagi. Aku berlari kecil mengampiri Ina yang masih menunggu di ujung jalan setapak itu, lalu bersama-sama menuju rumah.

Di jendela, aku menatap bulir-bulir hujan yang jatuh ke tanah. Cukup lama.
Tak ada tanda hujan akan mereda. Aku putuskan untuk tidak menunggu lebih lama. Ina mulai mengembangkan sebuah payung warna-warni yang diameternya cukup besar, yang akan ia gunakan untuk mengantarkanku ke jalan raya— menemukan bus. Setelah pamit kepada Bibi, kami berjalan menembus hujan, sepayung berdua. 

Perbukitan mulai tertutupi kabut. Urusan ini, aku memang tak pernah mau rugi, tak mau kehilangan keindahan pemandangan yang tak akan mungkin kutemukan di Kota. Aku terus saja menatap sekelilingku sampai kemudian mataku menangkap sesuatu.
"Ina, apa itu?" Menunjuk ke tepi bukit.
"Itu makam"
"Makam? Masa? Ga se elit makan biasanya" 

Di desa seperti ini, makam di kebun itu biasa. Dan makam-makam itu selalu dibuat menjadi jambur.

"Lanai lit keluargana si tading jenda, bang (Keluarganya udah ga ada yang tinggal disini, Bang)"
"Kasian juga "
"Seram."
"Seram?"
"Ue. Beguna gentanyangen (iya hantunya gentayangan.)"
"Kok tau?"
"Nina jelma (kata orang)"
"Cuma satu orang yang pernah liat?"
"Lang! (Engga)"
"Mmm... perempuan?"
"Ue. Mate nguda, ndelis ka. (Iya. Mati muda, bunuh diri pula)"
"Ah? Cantik ga?"
"Kam mau? (Kamu mau?)"
"Kalau cantik kenapa engga"
Kami tertawa.
"Mejile.. Nggo me ah.. seram.. (cantik.. Udah ah, seram)"
"Oh. Oke...."
"Nina jelma si pernah ngidah beguna...(kata orang yang pernah lihat hantunya...)"
"Tadi katanya udah..."
"Mbiar kam? (Kamu takut?)"
"Kok aku? Hahaha Ya engga lah"
"Nina jelma si pernah ngidah beguna, ia er uis jongkit ras ersarung (Cantik. Kata orang yang pernah lihat hantunya, dia berkain jongkit dan bersarung)"

"Ha, Apa?" Meski rasa terkejutku sedikit terlambat, aku terperanjak juga. Kuingat Ngena saat kutemukan pagi tadi. Nafasku senak sesaat. Kusadari ia juga mengenakan kain jongkit dan sarung. Dan yang paling penting, Ngena menghilang.


Aku sempat terhenti. Tapi tak lama, sebab Ina segera menyadari bahwa aku tertinggal dan kembali  mundur beberapa langkah untuk memayungiku. Ina yang tak mengerti sempat bertanya mengapa aku begitu terkejut. Aku pun takjub dengan apa yang aku alami. Kenangan luar biasa kubawa pulang. Aku ingin bilang pada Ina. Tapi aku khawatir hanya akan membuatnya merasa takut. Aku tersenyum sekenanya sebelum kami menyebrangi jalan yang lengang. Sepi sekali. Dengan sabar kami menunggu bus datang. Kurang lebih sepuluh menit lamanya. Hujan, adalah satu-satunya yang bisa kami dengarkan.

Menyadari ada bus yang datang, aku bergegas. Khawatir aku tak terlihat dan tertinggal. Menyadari kekhawatiranku, "Mejuah-juah" kata Ina mengarahkan tangannya untuk berjabatan. "Mejuah-juah" balasku menjabatnya sebelum masuk dan duduk di sisi kiri bus. Di sisi kiri, agar bisa menatap makam itu lagi.

Hatiku haru menatap keluar jendela. Menatap makam itu.

Bus bergerak menjauh.

Di dalam kepalaku, perkenalan tak biasa itu terus diputar ulang. "Aku Ngena." Kuingat saat-saat singkat itu. Senyumnya. Tahi lalatnya di sudut bibirnya. Dan teduh wajahnya saat kuamati dari samping. 

Kamu pasti salah mengira karena ternya mati tak benar-benar membuat segalanya berhenti. Karna kalau benar berhenti, kau tak akan menemuiku. Kamu menyesal, Ngena?