Ini berawal saat saya membuka dan membaca judul blog saya sendiri, “Range of Reflections.” Saya kemudian berpikir untuk memiliki satu identitas yang menggambarkan saya. Tapi, apa?
Saat itu “wortel” tiba-tiba terlintas di kepala saya.
Perempuan wortel? Wortel? Sejujurnya, saya tidak menyukai wortel dalam berbagai bentuk olahan, kecuali mentah.
Kemudian, semakin diulangi, semakin terdengar asing. Wortel, wortel, wortel, wortel wortel wortel.
Loh, kok?
Pernah nggak kamu tiba-tiba merasa asing dan seperti kehilangan makna saat mengulang-ulang suatu kata?
Tampak sepele, ya, namun memiliki implikasi mendalam.
Ternyata, dalam psikologi kognitif dan linguistik, fenomena ini dikenal sebagai “semantic satiation.” Ini terjadi karena otak kita mulai mengabaikan sinyal-sinyal yang dihasilkan oleh kata tersebut akibat paparan yang berulang-ulang.
Sebagai contoh, jika kita mengambil kata “wortel” dan mengulanginya berkali-kali—"wortel wortel wortel"—kita akan merasakan perubahan persepsi terhadap kata tersebut. Awalnya, kata “wortel” jelas merujuk pada sayuran berwarna oranye yang sering digunakan dalam berbagai masakan. Namun, setelah beberapa kali pengulangan, otak kita mulai melihatnya sebagai sekumpulan bunyi asing yang tidak memiliki makna yang signifikan.
Fenomena ini menunjukkan betapa fleksibelnya otak kita dalam memproses bahasa. Makna dari kata-kata ternyata bisa berubah-ubah, tergantung pada seberapa sering dan dalam konteks apa mereka digunakan. Semantic satiation ini tampaknya memberikan gambaran bagaimana kita memproses dan memahami bahasa sehari-hari, serta bagaimana otak kita bisa “bosan” dengan sesuatu yang diulang-ulang.

