Jumat, 19 Agustus 2016

Gelembung

"Itu kan bukan bubble gun. Masa gelembung tiup kaya gitu ditawarin harga dua puluh lima ribu kamunya mau mau aja!”
“Harusnya berapa?”
“Lima belas ribu juga dapat!”
“Hahaha cuma rugi 10 ribu”

Aku kemudian merampas gelembung yang kamu beli seharga dua puluh lima ribu itu. Sambil cekikikan, kamu mengikutiku dari belakang. Siapa sangka kamu dan aku menjadi begitu akrab setelah pertemuan di bangku paling belakang bus setengah tahun lalu.

Setelah lelah berjalan, kita memilih duduk di bangku permanen — tepat di bawah sebuah pohon beringin rindang — sambil menatap aktifitas para fotografer puncak yang sibuk menawarkan jasa kepada para pengunjung Bukit.

"Kamu tahu gak mitos bukit ini?"
"Apa?"
"Katanya, setiap pasangan yang datang kesini bakalan pisah. "
"Kau percaya itu?"
"Mmmmm entah. Tapi aku percaya kalau pikiran dan keyakinan kita dapat mempengaruhi hasil yang kita alami."
"Artinya, jika kita percaya, hal itu bisa menjadi kenyataan?"
"Bisa jadi."
"Jangan terlalu dipikirkan. Keyakinan semacam itu dapat menciptakan kecemasan dan ketegangan yang tidak perlu dalam hubungan kita"
Tidak ada yang salah, tapi aku tertawa lama setelahnya. Sedikit lucu mendengarmu mengatakan 'hubungan kita'. Aku tak pernah seserius itu.

———

“Ini kembaliannya, dik. Dua puluh lima ribu lagi.” Suara lelaki tua pedagang gelembung itu membuyarkan lamunanku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar