Jumat, 10 Agustus 2018

Rindu menyusup diantara alunan lagu
Membawaku kembali ke Agustus, tiga tahun lalu
Saat harus melepasmu
 Terlelap
Di tanah basah bertaburkan bunga.

Jumat, 02 Maret 2018

Ngena

Ragam kicau burung membangunkanku. Entah bertengger dimana, tak satupun kutemukan wujudnya.

Setelah menaikkan penguncinya, kutekan keluar jendela kayu rumah panggung yang kutinggali selama dua malam.

Kabut rendah masih memenuhi seluruh arah sejauh aku memandang, maka kunanti dengan sabar. Butuh hari sedikit lebih terang untuk menyisir sebuah lapangan, yang sore kemarin kulihat dari jendela belakang. 

Hujan deras disertai petir yang keras pada hari sebelumnya membuatku malas kemana-mana maka hari ini, sebelum pulang, aku sempatkan diri kesana. Akan lama setelah hari ini untuk menemukan kesempatan berkunjung lagi kesini. Aku tidak ingin melewatkannya.

Setelah matahari merangkak naik, kubuka pintu dan mengenakan sebuah sandal sebelum menuruni anak tangga. Sinar kemerahan dari sela ranting pohon yang daunnya menjuntai  memayungi jalan setapak menuju lapangan. Sinar itu bergelayut manja, bersebelahan dengan gunung yang bertahun belakangan, amarahnya belum juga menuai tenang  Sinabung. Sungguh pemandangan yang tak mungkin kutemukan di belakang rumahku di kota.
Aku takjub dengan satu lagi karya Tuhan. Bergeming, tapi masih berkedip. 

Gemerisik dedaunan dan angin kencang menghunyung tanpa aba-aba hingga buyar sesaat keindahan di depan mata. Debu yang terbawa angin menyerempet bola mata, membuatku spontan berbalik kearah lain.  Terlalu ragu untuk menyentuh, kupejamkan kuat, menyisakan perih hingga berair mata. Tiba-tiba saja, seorang perempuan berselendang jongkit, sarung yang melilit di pinggang, berdiri di depanku dan tersenyum. Cantik.

Perlahan ia mendekat. Kutatap tepat di manik matanya yang hitam pekat. Senyumnya begitu teduh, tapi entah mengapa, hatiku cemas. Aku tidak mengenalnya namun bukan sesuatu yang patut dicurigai jika ia menghampiriku. Orang di desa seperti ini memang dikenal ramah. 

Aku ingin bersikap menyenangkan dengan menyodorkan tangan dan menyebutkan nama, tapi ia lebih dulu melakukannya. Tangannya dingin sekali. Sedingin udara pagi ini.

"Aku Ngena"
"Ngena?"
Senyumnya terkembang. Sebuah tahi lalat di sudut bibirnya menjadi salah satu fokus perhatianku. Selain namanya, giginya yang kemerahan membuktikan bahwa ia penduduk sini. Warnanya seperti orang-orang yang memakan sirih pada umumnya. 

Sepersekian detik tangan kami berjabatan sebelum akhirnya ia lepaskan. Ngena mulai menyejajarkan posisinya di sebelahku. Turut menghadap matahari yang mulai meninggi, yang lama kelamaan, selama waktu yang kami habiskan dengan diam, lagit mulai berawan.

"Setiap hari adalah masa depan dari masa lalu. Suatu hari, masa depan juga akan menjadi masa lalu." Ia berucap secara mendadak lalu diam sebentar sebelum melanjutkan, "hidup dan fokuslah untuk hari ini." Aku menoleh, sementara Ngena tetap menatap lurus ke depan. Sungguh keindahan berlipat ganda, pikirku. Wajahnya saat kuamati dari samping sini menambah sejuk pagi yang sudah sejuk. 

Ngena bergerak. Kali ini kami berhadapan. Senyumnya masih bertahan tapi tatapannya mulai membuatku merasa seram. Mungkinkah ia kecewa karena aku tak membalas? Lagipula, pernyataannya sangat mendadak. Sedang aku tidak memiliki pengalaman dalam memikirkan masa depan.

"Yang kamu katakan itu benar sekali, Ngena" Aku mencoba bersuara.

Bang Ajiiii.....
Kudengar suara Ina memanggil. Aku memalingkan wajah sebentar kearah datangnya suara. Tepat diujung jalan, kulihat Ina berdiri, tangannya mengisyaratkan agar aku kembali. Kupikir hanya sebatas ini lah kesempatanku berbincang dengan Ngena. Saat akan pamit, Ngena menghilang. Ia tak ada bahkan di seluruh arah yang aku tatap.

Gerimis jatuh lagi. Aku berlari kecil mengampiri Ina yang masih menunggu di ujung jalan setapak itu, lalu bersama-sama menuju rumah.

Di jendela, aku menatap bulir-bulir hujan yang jatuh ke tanah. Cukup lama.
Tak ada tanda hujan akan mereda. Aku putuskan untuk tidak menunggu lebih lama. Ina mulai mengembangkan sebuah payung warna-warni yang diameternya cukup besar, yang akan ia gunakan untuk mengantarkanku ke jalan raya— menemukan bus. Setelah pamit kepada Bibi, kami berjalan menembus hujan, sepayung berdua. 

Perbukitan mulai tertutupi kabut. Urusan ini, aku memang tak pernah mau rugi, tak mau kehilangan keindahan pemandangan yang tak akan mungkin kutemukan di Kota. Aku terus saja menatap sekelilingku sampai kemudian mataku menangkap sesuatu.
"Ina, apa itu?" Menunjuk ke tepi bukit.
"Itu makam"
"Makam? Masa? Ga se elit makan biasanya" 

Di desa seperti ini, makam di kebun itu biasa. Dan makam-makam itu selalu dibuat menjadi jambur.

"Lanai lit keluargana si tading jenda, bang (Keluarganya udah ga ada yang tinggal disini, Bang)"
"Kasian juga "
"Seram."
"Seram?"
"Ue. Beguna gentanyangen (iya hantunya gentayangan.)"
"Kok tau?"
"Nina jelma (kata orang)"
"Cuma satu orang yang pernah liat?"
"Lang! (Engga)"
"Mmm... perempuan?"
"Ue. Mate nguda, ndelis ka. (Iya. Mati muda, bunuh diri pula)"
"Ah? Cantik ga?"
"Kam mau? (Kamu mau?)"
"Kalau cantik kenapa engga"
Kami tertawa.
"Mejile.. Nggo me ah.. seram.. (cantik.. Udah ah, seram)"
"Oh. Oke...."
"Nina jelma si pernah ngidah beguna...(kata orang yang pernah lihat hantunya...)"
"Tadi katanya udah..."
"Mbiar kam? (Kamu takut?)"
"Kok aku? Hahaha Ya engga lah"
"Nina jelma si pernah ngidah beguna, ia er uis jongkit ras ersarung (Cantik. Kata orang yang pernah lihat hantunya, dia berkain jongkit dan bersarung)"

"Ha, Apa?" Meski rasa terkejutku sedikit terlambat, aku terperanjak juga. Kuingat Ngena saat kutemukan pagi tadi. Nafasku senak sesaat. Kusadari ia juga mengenakan kain jongkit dan sarung. Dan yang paling penting, Ngena menghilang.


Aku sempat terhenti. Tapi tak lama, sebab Ina segera menyadari bahwa aku tertinggal dan kembali  mundur beberapa langkah untuk memayungiku. Ina yang tak mengerti sempat bertanya mengapa aku begitu terkejut. Aku pun takjub dengan apa yang aku alami. Kenangan luar biasa kubawa pulang. Aku ingin bilang pada Ina. Tapi aku khawatir hanya akan membuatnya merasa takut. Aku tersenyum sekenanya sebelum kami menyebrangi jalan yang lengang. Sepi sekali. Dengan sabar kami menunggu bus datang. Kurang lebih sepuluh menit lamanya. Hujan, adalah satu-satunya yang bisa kami dengarkan.

Menyadari ada bus yang datang, aku bergegas. Khawatir aku tak terlihat dan tertinggal. Menyadari kekhawatiranku, "Mejuah-juah" kata Ina mengarahkan tangannya untuk berjabatan. "Mejuah-juah" balasku menjabatnya sebelum masuk dan duduk di sisi kiri bus. Di sisi kiri, agar bisa menatap makam itu lagi.

Hatiku haru menatap keluar jendela. Menatap makam itu.

Bus bergerak menjauh.

Di dalam kepalaku, perkenalan tak biasa itu terus diputar ulang. "Aku Ngena." Kuingat saat-saat singkat itu. Senyumnya. Tahi lalatnya di sudut bibirnya. Dan teduh wajahnya saat kuamati dari samping. 

Kamu pasti salah mengira karena ternya mati tak benar-benar membuat segalanya berhenti. Karna kalau benar berhenti, kau tak akan menemuiku. Kamu menyesal, Ngena? 

Senin, 01 Mei 2017

Puput

Semburat sore memintasi celah dedaunan. Sesekali angin bertiup kencang, merebak kesejukan di wajahku. Tarikan sirus si gula gula kapas, tergurat jelas di cakrawala. Bocah-bocah di seberang jalanan lengang. Gelak tawa mereka menjumput senyum dari dalam diri, yang baru ku sadari adanya, ketika Ibu bertanya — kok senyum-senyum sendiri?. 
Senyumku berlanjut. Bocah-bocah itu, mereka semua berteman, tapi tak selalu memainkan permainan yang sama. Terkadang membagi diri menjadi beberapa kelompok bermain. Sebagian bermain masak-memasak, sebagian bermain sepeda. Sisanya bermain sesuai selera. Namun, ada seorang remaja di kerumunan bocah laki-laki, ia selalu menarik perhatianku. Joshua. Jojo orang sering menyapanya. Usianya kira-kira empat  atau lima belas. Selain yang paling tua, tubuhnya juga yang paling besar.
Walau selalu memiliki kesempatan bergurau bersama, selalu saja, ada sedak di rongga dada. Untuk satu hal yang aku tak pernah tahu bagaimana cara mengutarakannya, rindu yang ku endap belasan tahun untuk kakak perempuannya —  Puput, teman di masa kecilku.
Tak banyak yang bisa kuingat. Selain tubuhnya yang mungil, suaranya yang berat namun terdengar lucu. Rambutnya yang lurus entah semana yang senang diikat ekor kuda juga minggu terakhir yang kami habiskan dengan tidur siang bersama. Jangankan detik-detik kepergiannya, kapan dan disebabkan oleh apa, aku bahkan tak lagi mampu mengingat siapa nama sebenarnya. Yang ku tahu, hari itu, aku terbangun di pagi hari. Mungkin sekitar pukul enam. Ibu berkata bahwa puput sudah pulang setelah kemarin siang kami tidur siang bersama. Tanpa pamit, tanpa sekalipun ia memberitahu dimana dan kapan kami akan bertemu untuk kembali bermain bersama.

Entah apa yang Ibumu rasakan setiap kali berpapasan denganku. Terlebih hari itu, ketika ia menanyakan berapa usia dan sudah semester berapa kuliahku. Sepertinya ia ingin bernostalgia sejenak, andai kamu putrinya masih bersamanya, usia kita pasti sama.

Kamis, 16 Maret 2017

Dialog Hujan #2

Hanya hujan yang tertinggal. Usai sudah gemuruh yang semula menggelegar. Walau letukannya masih begitu keras, peduli apa? Aku berteduh karena ngeri membayangkan halilintar menyambar.
Aku mulai berjalan. Menembus deras yang mengaluk kejauhan berhalimun — menyekat pandangan. Kerudung hitam yang ku kenakan penuh dengan titik putih yang lama kelamaan menjadi bentuk tak karuan. Hujan telah menyimbahiku. Bulir-bulir air kurasa seperti bertemu di pelipis dan ujung daguku.

Hujan itu titik atau garis? 
Seseorang yang bukan kamu pernah bilang, bahwa hujan itu garis bila dipandang secara horizontal, titik bila secara vertikal. Lalu aku mendongak. Berusaha menemukan wujud titik dari hujan. Tetapi, setiap kali aku coba menatap secara vertikal, mataku tak sanggup menerawang. Mungkin aku mulai meragukan titik yang pernah kubicarakan. Sebab untuk benar-benar menitikkan ini semua butuh sebuah benturan keras di kepala. Dan, sejauh apapun aku membawa keyakinan titik itu, ia selalu saja menjelma garis. Bagi kita, garis berarti berkelanjutan.

Setujukah kau jika kubilang titik atau garis adalah bagian dari jarak, waktu dan cara kita merasakan? Mmm.. Mungkin juga kenangan?

Hujan mengerubungiku tanpa jeda. Langkahku melambat. Di selasar jalan, beberapa anak berlarian dengan pakaian dalam. Berdiri pada curah atap rumah-rumah, mendongakkan kepala dan menengadahkan tangan. Jika kau tanya mereka saat dewasa nanti, mereka pasti setuju denganmu. Hujan itu garis. Sekalipun mereka menitikkan pertemuan satu sama lain, kenangan itu akan tetap menjadikan hujan itu garis. Berkelanjutan. 

Boleh aku tanya sesuatu? Menurutmu, untuk apa hujan itu jatuh? Terlepas dari proses semestinya yang orang-orang jelaskan dalam siklus dan kebutuhan alam? Selain menjadi pemicu bagi banyak ingatan silam? Selain untuk mengenalkan petrikor si bau tanah basah kepada orang-orang? 

Aku melihat mereka jatuh menghempas tanah, menghempas aspal jalan, menghempas apa saja yang ada. Meski terhempas begitu keras, mereka tampak seolah bergembira. Semakin keras ia terhempas, semakin tinggi ia melompat. Semakin tinggi ia melompat, semakin ia terlihat bahagia. Tidakkah kau juga memperhatikannya? Atau hanya aku saja?

Aku berhenti sejenak memandangi jalanan yang penuh dengan lompatan hujan. Perlahan pandanganku meninggi hingga ke langit pekat. Pengamatan dan perasaan ini menggiring nalarku. Pantas saja aku merasa mereka seolah bergembira. Alasan lain mereka jatuh adalah membuatku merasa cemburu, setiap waktu, jatuh mereka akan lebih sering menyapu nisanmu ketimbang tanganku.

16 Maret 2016. 14.30 WIB          

Jumat, 19 Agustus 2016

Gelembung

"Itu kan bukan bubble gun. Masa gelembung tiup kaya gitu ditawarin harga dua puluh lima ribu kamunya mau mau aja!”
“Harusnya berapa?”
“Lima belas ribu juga dapat!”
“Hahaha cuma rugi 10 ribu”

Aku kemudian merampas gelembung yang kamu beli seharga dua puluh lima ribu itu. Sambil cekikikan, kamu mengikutiku dari belakang. Siapa sangka kamu dan aku menjadi begitu akrab setelah pertemuan di bangku paling belakang bus setengah tahun lalu.

Setelah lelah berjalan, kita memilih duduk di bangku permanen — tepat di bawah sebuah pohon beringin rindang — sambil menatap aktifitas para fotografer puncak yang sibuk menawarkan jasa kepada para pengunjung Bukit.

"Kamu tahu gak mitos bukit ini?"
"Apa?"
"Katanya, setiap pasangan yang datang kesini bakalan pisah. "
"Kau percaya itu?"
"Mmmmm entah. Tapi aku percaya kalau pikiran dan keyakinan kita dapat mempengaruhi hasil yang kita alami."
"Artinya, jika kita percaya, hal itu bisa menjadi kenyataan?"
"Bisa jadi."
"Jangan terlalu dipikirkan. Keyakinan semacam itu dapat menciptakan kecemasan dan ketegangan yang tidak perlu dalam hubungan kita"
Tidak ada yang salah, tapi aku tertawa lama setelahnya. Sedikit lucu mendengarmu mengatakan 'hubungan kita'. Aku tak pernah seserius itu.

———

“Ini kembaliannya, dik. Dua puluh lima ribu lagi.” Suara lelaki tua pedagang gelembung itu membuyarkan lamunanku. 

Minggu, 12 Oktober 2014

Sumpah berapi membaur dalam seribu janji. Senja dipaksa libur hari ini, terbekam hujan yang mereka sebut tangisan dewa-dewi. Akulah gadis pemimpi yang hidup di bawah bianglala karnaval mini, dengan harapan-harapan kecil agar kelak jemari tak lagi berspasi. 

Rabu, 06 Februari 2013

Bersyukurlah, karna di setiap perpisahan, Tuhan hanya membuatmu kehilangan teman berjalan. Bukan kehilangan tujuan.

Senin, 31 Desember 2012

"Dengan ramuan apa saja pagi hitam ini diciptakan?" "Dari semangkuk gelita, sekepal dingin dan sesendok sepi yang dibancuh dalam larutan rindu!"